Senin, 30 September 2013

JANGAN BIARKAN DIRIMU BERADA DALAM KERAGUAN

Jangan Biarkan Dirimu Tenggelam dalam Keraguan
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,Apabila salah seorang di antara kalian merasakan sesuatu dalam perutnya, lalu ia ragu apakah sudah keluar sesuatu (angin) ataukah belum, maka janganlah ia membatalkan shalatnya sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim, no.362 Kitabul Haid, Bab 26)
Penjelasan Hadits
Bukan hal yang mustahil bagi seorang muslim yang telah berwudhu, kemudian hendak shalat, ataupun yang sedang shalat akan merasakan sesuatu pada perutnya, bisa jadi karena perut yang terlalu kenyang, atau sebaliknya yang terlalu lapar ataupun karena was-was setan. Ia pun seakan merasakan ada sesuatu (angin) yang keluar melalui duburnya, ia ragu apakah benar-benar keluar atau tidak. Dalam keadaan seperti ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan solusinya, yaitu hendaknya ia tetap yakin bahwa wudhunya belum batal sampai ia mendengar suara atau mencium bau.
Di antara pelajaran penting yang dapat kita petik dari hadits di atas adalah:
1. Kaidah (Teori) Fikih
"Sesuatu yang telah yakin (tidak diragukan) tidak dapat hilang dengan keraguan". (Taisir al-Wushul ila Qawaid al-Ushul wa Maqaid al-Fushul, Ibnu Abdil Haq al-Baghdady, 282)
Ini adalah kaidah fiqih (teori) yang sangat penting, jika seorang muslim telah memahaminya dengan baik maka ia akan mendapati kemudahan dalam menghadapi berbagai macam permasalahan. Adapun maksud dari kaidah ini adalah bahwasannya segala sesuatu yang telah yakin adanya, maka tidak dapat hilang karena suatu keraguan, ataupun sebaliknya segala sesuatu yang telah diyakini ketiadaannya maka tidak bisa dianggap ada hanya dengan keraguan atau tanpa dalil yang jelas. Kaidah ini akan semakin dapat kita fahami dengan baik dengan contoh-contoh sebagai berikut:
·         Apabila seseorang berwudhu, setelah beberapa saat kemudian ia ragu apakah telah batal wudhunya atau belum, maka sejatinya wudhunya belum batal, karena ia yakin telah berwudhu, namun batal atau tidaknya ia ragu.
·         Apabila seseorang yakin bahwa ia berhadats (kecil/besar), beberapa saat kemudian ia ragu apaka ia telah bersuci atau belum, dalam keadaan seperti itu maka sejatinya ia belum bersuci.
·         Apabila seseorang berjalan melewati suatu perumahan, kemudian jatuhlah air dari lantai dua salah satu rumah dan membasahi bajunya, ia tidak tahu apakah air tersebut najis atau bukan, maka secara asal air tersebut suci, kecuali ia mendapati tanda-tanda yang jelas, misalnya dari baunya. (al-Qawaid walUshul al-Jamia’ah, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, 90)
·         Apabila seseorang ragu dalam shalatnya, ia telah shalat 4 rakaat atau 3 rakaat, maka hendaknya ia mimilih bahwasannya ia telah shalat 3 rakaat karena itulah yang tidak diragukan,  kemudian melanjutkan ke rakaat yang ke-4 dan sujud sahwi.
·         Apabila seseorang hendak membeli barang dagangan berupa daging sembelihan (ayam, kambing, sapi dan sebagainya) dari saudaranya sesama muslim, maka hendaknya ia tidak ragu apakah daging tersebut adalah daging dari hewan yang disembelih secara syar’i atau bukan, karena saudaranya adalah seorang muslim, dan secara asal seorang muslim adalah mentaati perintah Allah, maka ia akan menyembelih hewan sesuai dengan syar’i.
·         Apabila seorang suami ragu, apakah ia telah mentalak istrinya atau tidak, maka sejatinya ia tidak atau belum mentalak istrinya. Karena menikahnya ia dengan istrinya adalah sesuatu yang yakin. (al-Mantsur FilQawaid, az-Zarkasyi, 3/136).
2. Jangan Termakan Was-was Setan
Setan akan terus berusaha menggelincirkan anak keturunan Adam ‘alaihissalam dari jalan kebenaran, hingga hari kiamat kelak, karena demikianlah janji iblis la’natullah ‘alaih. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman mengisahkan perkataan iblis yang artinya,  "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (QS. al-A’raf: 16)
Imam Mujahid rahimahullah seorang ulama tafsir dari generasi setelah sahabat (tabi’in) mengatakan  almustaqiim berarti alhaq yaitu “kebenaran”.
Salah satu usaha setan dari janjinya tersebut adalah ia menebarkan was-was kepada hamba-hamba yang beriman dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, sehingga  muncullah keraguan-keraguan dalam hatinya.  Maka hendaknya kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari was-was setan dalam setiap keadaan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
1. Katakanlah, "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2. Raja manusia.
3. Sembahan manusia.
4. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,
5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6. dari (golongan) jin dan manusia.
3. Islam Dibangun di atas Dasar yang Jelas
Pelajaran berharga juga dari hadits di atas adalah bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada kita, bahwa Islam adalah agama yang dibangun di atas dasar yang jelas, yaitu di atas al-Quran dan hadits serta pemahaman yang lurus, yaitu pemahaman para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga dengan demikian tidak ada sikap yang bijak  bagi setiap muslim melainkan ia harus senantiasa berpegang teguh dengan agama yang mulia ini, serta tidak beribadah kepada Allah Ta’ala melainkan dengan dasar yang jelas dari al-Quran dan hadits, karena sesungguhnya segala sesuatu yang tidak berasal dari al-Quran dan hadits, serta bertentangan dengan keduanya adalah sesuatu yang meragukan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
Katakanlah (wahai Muhammad), "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah (dasar) yang nyata (jelas), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS.Yusuf,108)
4. Tidak Mengantuk dalam Shalat
Sudah selayaknya bagi setiap muslim untuk mempersiapkan dirinya dengan baik sebelum melaksanakan shalat. Di antaranya adalah mengatur waktu tidurnya dengan baik, sehingga ketika melaksanakan shalat ia tidak mengantuk, karena bisa jadi seseorang yang shalat berjamaah dan ia sedang mengantuk berat mendengar suara dari arah saudaranya, kemudian ia membatalkan shalatnya karena mengira shalatnya telah batal. Tentu saja ini tidak dibenarkan.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjadikan kita semua termasuk dari hamba-hamba-Nya yang senantiasa menjauhkan dirinya dari segala keraguan dan senantiasa menetapi sesuatu yang meyakinkan, hingga Allah Ta’ala memperkenankan kita memasuki surge-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin. (Irsan al-Atsary) editor (kamal albaity)