Rabu, 09 Oktober 2013

ENGKAU BIDADARI SYURGAKU

ENGKAU BIDADARI SURGAKU!
                Wajahnya yang cantik jelita melebihi cahaya bulan purnama, tubuhnya yang elok dan rupawan menjadi idaman bagi sang pujaan, hiasannya yang anggun, wanginya yang sangat harum menambah indah perangainya yang santun. Itulah sekelumit tentang bidadari surga yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Bidadari surga sangatlah terjaga kesuciannya dia tidak pernah disentuh oleh jin ataupun manusia, karena bidadari surga hanya diperuntukkan bagi suaminya yang bertakwa dan taat kepada Rosul-Nya saja.
Ciri-ciri bidadari surga:
1.       Bidadari surga sangat terjaga kesuciannya
                Allah Ta’ala berfirman: “Dan untuk mereka istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 25)
                Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “(istri-istri surga) mereka tidak haid, tidak mengeluarkan hadas (kencing dan buang kotoran) dan tidak pula mengeluarkan ingus.”
                Mujahid rahimahullah berkata: “Mereka tidak kencing dan tidak mengeluarkan kotoran, tidak mengeluarkan mazi dan mani, tidak haid, tidak meludah, tidak mengeluarkan ingus dan tidak melahirkan.” (lihat kitab Hadi al-arwah)
2.       Bidadari surga penuh dengan cahaya dan sangat harum
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau seandainya wanita surga menengok ke bumi, niscaya antara langit dan bumi bercahaya dan penuh dengan bau harum, dan jilbab bidadari lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhori, no.2796)
3.       Bidadari Surga tetap perawan
Orang-orang yang beriman di dalam surga mereka bersenang-senang dengan istri-istri mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan, mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (QS. Yasin: 55-56)
        Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas rodhiallahu ‘anhuma berkata: “Mereka sibuk memecahkan keperawanan bidadari.”
        Muqotil rahimahullah berkata: “Mereka sibuk memecahkan keperawanan bidadari sampai lupa dengan penghuni neraka, sehingga mereka tidak ingat dan tidak memperhatikan mereka.” (lihat kitab Hadi Al-arwah)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang beriman di surga diberi kekuatan demikian-demikian dalam berjimak.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah ia bisa melakukan hal itu (jimak)? Beliau bersabda: “Ia diberi kekuatan seratus orang.” (HR. At-tirmidzi, no. 2536, Syaikh Albani rahimahullah berkata di kitab Shahih Sunan at-Tirmidzi: Hadits ini hasan shahih)
Masih banyak lagi ciri-ciri bidadari surga yang telah Allah kabarkan kepada kita, baik di dalam Alquran maupun di dalam Sunah. Oleh karena itu mari kita memperbanyak amal saleh di dunia ini agar kita mendapatkan bidadari di surga nanti. Ketahuilah saudaraku seiman bahwasanya para Salafush Shalih, mereka sangat rindu kepada bidadari di surga dengan memperbanyak amal saleh dan meninggalkan kesenangan dunia yang menipu dan sementara.

Sebagai penutup dari tulisan ini saya akan menyajikan satu pertanyaan kepada anda melalui lisan Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah semoga dengan satu pertanyaan ini anda akan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan bidadari surga, beliau berkata: “Wahai para pemuda, tidakkah kalian rindu dengan bidadari?” (lihat lihat Syarah Abyat al-Jannah karya Al-Allamah Mahmud Syukri Al-Alusi rahimahullah). (S@ifullah al-Gabusy)

Senin, 07 Oktober 2013

Siapakah ahlussunnah wal jamaah?



siapakah ahlussunnah wal jamaah? 
Dahulu di zamaan Rasulullaah SAW. kaum muslimin dikenal bersatu, tidak ada golongan ini dan tidak ada golongan itu, tidak ada syiah ini dan tidak ada syiah itu, semua dibawah pimpinan dan komando Rasulullah SAW.
Bila ada masalah atau beda pendapat antara para sahabat, mereka langsung datang kepada Rasulullah SAW. itulah yang membuat para sahabat saat itu tidak sampai terpecah belah, baik dalam masalah akidah, maupun dalam urusan duniawi.
Kemudian setelah Rasulullah SAW. wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak dan puncaknya terjadi saat Imam Ali kw. menjadi khalifah. Namun perpecahan tersebut hanya bersifat politik, sedang akidah mereka tetap satu yaitu akidah Islamiyah, meskipun saat itu benih-benih penyimpangan dalam akidah sudah mulai ditebarkan oleh Ibin Saba’, seorang yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai pencetus faham Syiah (Rawafid).
Tapi setelah para sahabat wafat, benih-benih perpecahan dalam akidah tersebut mulai membesar, sehingga timbullah faham-faham yang bermacam-macam yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW.
Saat itu muslimin terpecah dalam dua bagian, satu bagian dikenal sebagai golongan-golongan ahli bid’ah, atau kelompok-kelompok sempalan dalam Islam, seperti Mu’tazilah, Syiah (Rawafid), Khowarij dan lain-lain. Sedang bagian yang satu lagi adalah golongan terbesar, yaitu golongan orang-orang yang tetap berpegang teguh kepada apa-apa yang dikerjakan dan diyakini oleh Rasulullah SAW. bersama sahabat-sahabatnya.
Golongan yang terakhir inilah yang kemudian menamakan golongannya dan akidahnya Ahlus Sunnah Waljamaah. Jadi golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah golongan yang mengikuti sunnah-sunnah nabi dan jamaatus shohabah.
Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW : bahwa golongan yang selamat dan akan masuk surga (al-Firqah an Najiyah) adalah golongan yang mengikuti apa-apa yang aku (Rasulullah SAW) kerjakan bersama sahabat-sahabatku.
Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah adalah akidah Islamiyah yang dibawa oleh Rasulullah dan golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah umat Islam. Lebih jelasnya, Islam adalah Ahlus Sunnah Waljamaah dan Ahlus Sunnah Waljamaah itulah Islam. Sedang golongan-golongan ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah, Syiah(Rawafid) dan lain-lain, adalah golongan yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW yang berarti menyimpang dari ajaran Islam.
Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah itu sudah ada sebelum Allah menciptakan Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Hambali. Begitu pula sebelum timbulnya ahli bid’ah atau sebelum timbulnya kelompok-kelompok sempalan.
Akhirnya yang perlu diperhatikan adalah, bahwa kita sepakat bahwa Ahlul Bait adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi SAW. dan mereka tidak menyimpang dari ajaran nabi. Mereka tidak dari golongan ahli bid’ah, tapi dari golongan Ahlus Sunnah.
Demikian sekilas lahirnya nama Ahlus Sunnah Waljamaah.