Jumat, 21 November 2014


Adab Ketika Berjumpa



Dalam aktivitasnya sebagai manusia, seorang muslim tentunya banyak bergaul dengan sesama. Berikut ini adalah sebagian adab seorang muslim tatkala bertemu dengan saudaranya sesama muslim.
1.   Mengucapkan salam, dan lebih disunahkan mendahului mengucapkan salam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang menaiki kendaraan hendaknya yang mulai mengucapkan salam kepada yang berjalan, orang yang berjalan hendaknya yang mulai mengucapkan salam kepada yang duduk, dan orang yang terbaik di antara dua orang yang berjalan adalah yang terdahulu dalam mengucapkan salam.” (HR. Al-Bazzar dan Ibnu Hibban; disahihkan oleh Al-Albani di dalam sahih At-Targhib)
Mengucapkan salam, selain sebagai sunah yang diajarkan oleh baginda Nabi ternyata juga banyak mengandung hikmah, di antaranya:
a.       Menunjukkan sikap rendah hati yang merupakan ciri seorang muslim.
b.      Menghilangkan perasaan takut antara orang yang bertemu.
c.       Menumbuhkan rasa saling sayang dan cinta antara keduanya.
d.      Saling mendoakan antara keduanya.

2.   Saling berjabat tangan.
Dengan berjabat tangan, kita dapat menghilangkan perasaan benci di antara sesama muslim. Jabat tangan pun merupakan salah satu sebab terampuninya dosa antara kita dan saudara kita sesama muslim. Dan yang lebih penting dari semua itu adalah bahwasanya jabat tangan merupakan amalan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu “alaihi wasallam, dan amalan yang telah dicontohkan oleh para sahabat beliau. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian berjabat tangan kecuali Allah akan ampuni keduanya sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmizi; dinilai sahih lighairih oleh Al-Albani)
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad secara sahih, bahwasanya Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dahulu para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bertemu mereka saling berjabat tangan, dan apabila datang dari berpergian jauh mereka saling berpelukan.” (HR. Ath-Thabrani, dihasankan oleh Syekh Al-Albani)
3.   Bermuka ceria ketika bertemu merupakan sedekah dan kebaikan bagi pelakunya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menganjurkan kepada kita  untuk selalu bermuka ceria ketika bertemu sesama muslim, karena hal tersebut merupakan sedekah dan kebaikan bagi pelakunya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh beliau, “Janganlah sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun. Meski hanya dengan bermuka ceria tatkala bertemu dengan saudaramu.” (HR. Muslim)
Di dalam hadis yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “ Senyumanmu di hadapan saudaramu merupakan sedekah bagimu.” (HR. Tirmizi, dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani)

Demikianlah beberapa adab yang dituntunkan Islam kepada umatnya saat bertemu saudaranya muslim. Tentu, sangat banyak hikmah yang terkandung di dalamnya. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya. Wa billahi taufik.  (Dinukil dari majalah sakinah dengan sedikit perubahan)


Maroji' : Buletin An-Nashihah STDIIS JEMBER.

Minggu, 22 Desember 2013

ADAB MEMBACA AL-QUR'AN



Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta’ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an:
1. Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang.
Dalam membaca Al-Qur’an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59)
2. Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca.
Rosululloh bersabda, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan)
Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rosululloh telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR. Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.
3. Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.
Alloh Ta’ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.
4. Membaguskan suara ketika membacanya.
Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya.
5. Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)
Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu’.
Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam bersabda, “Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim). Wallohu a’lam.
***
Penulis: Abu Hudzaifah Yusuf

Rabu, 09 Oktober 2013

ENGKAU BIDADARI SYURGAKU

ENGKAU BIDADARI SURGAKU!
                Wajahnya yang cantik jelita melebihi cahaya bulan purnama, tubuhnya yang elok dan rupawan menjadi idaman bagi sang pujaan, hiasannya yang anggun, wanginya yang sangat harum menambah indah perangainya yang santun. Itulah sekelumit tentang bidadari surga yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Bidadari surga sangatlah terjaga kesuciannya dia tidak pernah disentuh oleh jin ataupun manusia, karena bidadari surga hanya diperuntukkan bagi suaminya yang bertakwa dan taat kepada Rosul-Nya saja.
Ciri-ciri bidadari surga:
1.       Bidadari surga sangat terjaga kesuciannya
                Allah Ta’ala berfirman: “Dan untuk mereka istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah: 25)
                Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “(istri-istri surga) mereka tidak haid, tidak mengeluarkan hadas (kencing dan buang kotoran) dan tidak pula mengeluarkan ingus.”
                Mujahid rahimahullah berkata: “Mereka tidak kencing dan tidak mengeluarkan kotoran, tidak mengeluarkan mazi dan mani, tidak haid, tidak meludah, tidak mengeluarkan ingus dan tidak melahirkan.” (lihat kitab Hadi al-arwah)
2.       Bidadari surga penuh dengan cahaya dan sangat harum
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau seandainya wanita surga menengok ke bumi, niscaya antara langit dan bumi bercahaya dan penuh dengan bau harum, dan jilbab bidadari lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhori, no.2796)
3.       Bidadari Surga tetap perawan
Orang-orang yang beriman di dalam surga mereka bersenang-senang dengan istri-istri mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan, mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (QS. Yasin: 55-56)
        Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas rodhiallahu ‘anhuma berkata: “Mereka sibuk memecahkan keperawanan bidadari.”
        Muqotil rahimahullah berkata: “Mereka sibuk memecahkan keperawanan bidadari sampai lupa dengan penghuni neraka, sehingga mereka tidak ingat dan tidak memperhatikan mereka.” (lihat kitab Hadi Al-arwah)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang beriman di surga diberi kekuatan demikian-demikian dalam berjimak.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah ia bisa melakukan hal itu (jimak)? Beliau bersabda: “Ia diberi kekuatan seratus orang.” (HR. At-tirmidzi, no. 2536, Syaikh Albani rahimahullah berkata di kitab Shahih Sunan at-Tirmidzi: Hadits ini hasan shahih)
Masih banyak lagi ciri-ciri bidadari surga yang telah Allah kabarkan kepada kita, baik di dalam Alquran maupun di dalam Sunah. Oleh karena itu mari kita memperbanyak amal saleh di dunia ini agar kita mendapatkan bidadari di surga nanti. Ketahuilah saudaraku seiman bahwasanya para Salafush Shalih, mereka sangat rindu kepada bidadari di surga dengan memperbanyak amal saleh dan meninggalkan kesenangan dunia yang menipu dan sementara.

Sebagai penutup dari tulisan ini saya akan menyajikan satu pertanyaan kepada anda melalui lisan Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah semoga dengan satu pertanyaan ini anda akan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan bidadari surga, beliau berkata: “Wahai para pemuda, tidakkah kalian rindu dengan bidadari?” (lihat lihat Syarah Abyat al-Jannah karya Al-Allamah Mahmud Syukri Al-Alusi rahimahullah). (S@ifullah al-Gabusy)

Senin, 07 Oktober 2013

Siapakah ahlussunnah wal jamaah?



siapakah ahlussunnah wal jamaah? 
Dahulu di zamaan Rasulullaah SAW. kaum muslimin dikenal bersatu, tidak ada golongan ini dan tidak ada golongan itu, tidak ada syiah ini dan tidak ada syiah itu, semua dibawah pimpinan dan komando Rasulullah SAW.
Bila ada masalah atau beda pendapat antara para sahabat, mereka langsung datang kepada Rasulullah SAW. itulah yang membuat para sahabat saat itu tidak sampai terpecah belah, baik dalam masalah akidah, maupun dalam urusan duniawi.
Kemudian setelah Rasulullah SAW. wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak dan puncaknya terjadi saat Imam Ali kw. menjadi khalifah. Namun perpecahan tersebut hanya bersifat politik, sedang akidah mereka tetap satu yaitu akidah Islamiyah, meskipun saat itu benih-benih penyimpangan dalam akidah sudah mulai ditebarkan oleh Ibin Saba’, seorang yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai pencetus faham Syiah (Rawafid).
Tapi setelah para sahabat wafat, benih-benih perpecahan dalam akidah tersebut mulai membesar, sehingga timbullah faham-faham yang bermacam-macam yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW.
Saat itu muslimin terpecah dalam dua bagian, satu bagian dikenal sebagai golongan-golongan ahli bid’ah, atau kelompok-kelompok sempalan dalam Islam, seperti Mu’tazilah, Syiah (Rawafid), Khowarij dan lain-lain. Sedang bagian yang satu lagi adalah golongan terbesar, yaitu golongan orang-orang yang tetap berpegang teguh kepada apa-apa yang dikerjakan dan diyakini oleh Rasulullah SAW. bersama sahabat-sahabatnya.
Golongan yang terakhir inilah yang kemudian menamakan golongannya dan akidahnya Ahlus Sunnah Waljamaah. Jadi golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah golongan yang mengikuti sunnah-sunnah nabi dan jamaatus shohabah.
Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW : bahwa golongan yang selamat dan akan masuk surga (al-Firqah an Najiyah) adalah golongan yang mengikuti apa-apa yang aku (Rasulullah SAW) kerjakan bersama sahabat-sahabatku.
Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah adalah akidah Islamiyah yang dibawa oleh Rasulullah dan golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah umat Islam. Lebih jelasnya, Islam adalah Ahlus Sunnah Waljamaah dan Ahlus Sunnah Waljamaah itulah Islam. Sedang golongan-golongan ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah, Syiah(Rawafid) dan lain-lain, adalah golongan yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW yang berarti menyimpang dari ajaran Islam.
Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah itu sudah ada sebelum Allah menciptakan Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Hambali. Begitu pula sebelum timbulnya ahli bid’ah atau sebelum timbulnya kelompok-kelompok sempalan.
Akhirnya yang perlu diperhatikan adalah, bahwa kita sepakat bahwa Ahlul Bait adalah orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi SAW. dan mereka tidak menyimpang dari ajaran nabi. Mereka tidak dari golongan ahli bid’ah, tapi dari golongan Ahlus Sunnah.
Demikian sekilas lahirnya nama Ahlus Sunnah Waljamaah.

Senin, 30 September 2013

JANGAN BIARKAN DIRIMU BERADA DALAM KERAGUAN

Jangan Biarkan Dirimu Tenggelam dalam Keraguan
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,Apabila salah seorang di antara kalian merasakan sesuatu dalam perutnya, lalu ia ragu apakah sudah keluar sesuatu (angin) ataukah belum, maka janganlah ia membatalkan shalatnya sampai ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim, no.362 Kitabul Haid, Bab 26)
Penjelasan Hadits
Bukan hal yang mustahil bagi seorang muslim yang telah berwudhu, kemudian hendak shalat, ataupun yang sedang shalat akan merasakan sesuatu pada perutnya, bisa jadi karena perut yang terlalu kenyang, atau sebaliknya yang terlalu lapar ataupun karena was-was setan. Ia pun seakan merasakan ada sesuatu (angin) yang keluar melalui duburnya, ia ragu apakah benar-benar keluar atau tidak. Dalam keadaan seperti ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan solusinya, yaitu hendaknya ia tetap yakin bahwa wudhunya belum batal sampai ia mendengar suara atau mencium bau.
Di antara pelajaran penting yang dapat kita petik dari hadits di atas adalah:
1. Kaidah (Teori) Fikih
"Sesuatu yang telah yakin (tidak diragukan) tidak dapat hilang dengan keraguan". (Taisir al-Wushul ila Qawaid al-Ushul wa Maqaid al-Fushul, Ibnu Abdil Haq al-Baghdady, 282)
Ini adalah kaidah fiqih (teori) yang sangat penting, jika seorang muslim telah memahaminya dengan baik maka ia akan mendapati kemudahan dalam menghadapi berbagai macam permasalahan. Adapun maksud dari kaidah ini adalah bahwasannya segala sesuatu yang telah yakin adanya, maka tidak dapat hilang karena suatu keraguan, ataupun sebaliknya segala sesuatu yang telah diyakini ketiadaannya maka tidak bisa dianggap ada hanya dengan keraguan atau tanpa dalil yang jelas. Kaidah ini akan semakin dapat kita fahami dengan baik dengan contoh-contoh sebagai berikut:
·         Apabila seseorang berwudhu, setelah beberapa saat kemudian ia ragu apakah telah batal wudhunya atau belum, maka sejatinya wudhunya belum batal, karena ia yakin telah berwudhu, namun batal atau tidaknya ia ragu.
·         Apabila seseorang yakin bahwa ia berhadats (kecil/besar), beberapa saat kemudian ia ragu apaka ia telah bersuci atau belum, dalam keadaan seperti itu maka sejatinya ia belum bersuci.
·         Apabila seseorang berjalan melewati suatu perumahan, kemudian jatuhlah air dari lantai dua salah satu rumah dan membasahi bajunya, ia tidak tahu apakah air tersebut najis atau bukan, maka secara asal air tersebut suci, kecuali ia mendapati tanda-tanda yang jelas, misalnya dari baunya. (al-Qawaid walUshul al-Jamia’ah, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, 90)
·         Apabila seseorang ragu dalam shalatnya, ia telah shalat 4 rakaat atau 3 rakaat, maka hendaknya ia mimilih bahwasannya ia telah shalat 3 rakaat karena itulah yang tidak diragukan,  kemudian melanjutkan ke rakaat yang ke-4 dan sujud sahwi.
·         Apabila seseorang hendak membeli barang dagangan berupa daging sembelihan (ayam, kambing, sapi dan sebagainya) dari saudaranya sesama muslim, maka hendaknya ia tidak ragu apakah daging tersebut adalah daging dari hewan yang disembelih secara syar’i atau bukan, karena saudaranya adalah seorang muslim, dan secara asal seorang muslim adalah mentaati perintah Allah, maka ia akan menyembelih hewan sesuai dengan syar’i.
·         Apabila seorang suami ragu, apakah ia telah mentalak istrinya atau tidak, maka sejatinya ia tidak atau belum mentalak istrinya. Karena menikahnya ia dengan istrinya adalah sesuatu yang yakin. (al-Mantsur FilQawaid, az-Zarkasyi, 3/136).
2. Jangan Termakan Was-was Setan
Setan akan terus berusaha menggelincirkan anak keturunan Adam ‘alaihissalam dari jalan kebenaran, hingga hari kiamat kelak, karena demikianlah janji iblis la’natullah ‘alaih. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman mengisahkan perkataan iblis yang artinya,  "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (QS. al-A’raf: 16)
Imam Mujahid rahimahullah seorang ulama tafsir dari generasi setelah sahabat (tabi’in) mengatakan  almustaqiim berarti alhaq yaitu “kebenaran”.
Salah satu usaha setan dari janjinya tersebut adalah ia menebarkan was-was kepada hamba-hamba yang beriman dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, sehingga  muncullah keraguan-keraguan dalam hatinya.  Maka hendaknya kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari was-was setan dalam setiap keadaan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
1. Katakanlah, "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2. Raja manusia.
3. Sembahan manusia.
4. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,
5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6. dari (golongan) jin dan manusia.
3. Islam Dibangun di atas Dasar yang Jelas
Pelajaran berharga juga dari hadits di atas adalah bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada kita, bahwa Islam adalah agama yang dibangun di atas dasar yang jelas, yaitu di atas al-Quran dan hadits serta pemahaman yang lurus, yaitu pemahaman para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga dengan demikian tidak ada sikap yang bijak  bagi setiap muslim melainkan ia harus senantiasa berpegang teguh dengan agama yang mulia ini, serta tidak beribadah kepada Allah Ta’ala melainkan dengan dasar yang jelas dari al-Quran dan hadits, karena sesungguhnya segala sesuatu yang tidak berasal dari al-Quran dan hadits, serta bertentangan dengan keduanya adalah sesuatu yang meragukan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
Katakanlah (wahai Muhammad), "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah (dasar) yang nyata (jelas), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS.Yusuf,108)
4. Tidak Mengantuk dalam Shalat
Sudah selayaknya bagi setiap muslim untuk mempersiapkan dirinya dengan baik sebelum melaksanakan shalat. Di antaranya adalah mengatur waktu tidurnya dengan baik, sehingga ketika melaksanakan shalat ia tidak mengantuk, karena bisa jadi seseorang yang shalat berjamaah dan ia sedang mengantuk berat mendengar suara dari arah saudaranya, kemudian ia membatalkan shalatnya karena mengira shalatnya telah batal. Tentu saja ini tidak dibenarkan.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjadikan kita semua termasuk dari hamba-hamba-Nya yang senantiasa menjauhkan dirinya dari segala keraguan dan senantiasa menetapi sesuatu yang meyakinkan, hingga Allah Ta’ala memperkenankan kita memasuki surge-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin. (Irsan al-Atsary) editor (kamal albaity)