Jangan Biarkan
Dirimu Tenggelam dalam Keraguan
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata ,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian
merasakan sesuatu dalam perutnya, lalu ia ragu apakah sudah keluar sesuatu (angin)
ataukah belum, maka janganlah ia membatalkan shalatnya sampai ia mendengar
suara atau mencium bau.” (HR. Muslim, no.362 Kitabul Haid, Bab 26)
Penjelasan Hadits
Bukan hal yang mustahil bagi seorang muslim
yang telah berwudhu, kemudian hendak shalat, ataupun yang sedang shalat akan
merasakan sesuatu pada perutnya, bisa jadi karena perut yang terlalu kenyang,
atau sebaliknya yang terlalu lapar ataupun karena was-was setan. Ia pun seakan
merasakan ada sesuatu (angin) yang keluar melalui duburnya, ia ragu apakah
benar-benar keluar atau tidak. Dalam keadaan seperti ini, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam telah memberikan solusinya, yaitu hendaknya ia tetap yakin
bahwa wudhunya belum batal sampai ia mendengar suara atau mencium bau.
Di antara pelajaran penting yang dapat kita
petik dari hadits di atas adalah:
1. Kaidah (Teori) Fikih
"Sesuatu yang
telah yakin (tidak diragukan) tidak dapat hilang dengan keraguan". (Taisir al-Wushul ila
Qawaid al-Ushul wa Maqaid al-Fushul, Ibnu Abdil Haq al-Baghdady, 282)
Ini adalah kaidah fiqih (teori) yang
sangat penting, jika seorang muslim telah memahaminya dengan baik maka ia akan
mendapati kemudahan dalam menghadapi berbagai macam permasalahan. Adapun maksud
dari kaidah ini adalah bahwasannya segala sesuatu yang telah yakin adanya, maka
tidak dapat hilang karena suatu keraguan, ataupun sebaliknya segala sesuatu
yang telah diyakini ketiadaannya maka tidak bisa dianggap ada hanya dengan
keraguan atau tanpa dalil yang jelas. Kaidah ini akan semakin dapat kita fahami
dengan baik dengan contoh-contoh sebagai berikut:
·
Apabila seseorang berwudhu, setelah beberapa
saat kemudian ia ragu apakah telah batal wudhunya atau belum, maka sejatinya
wudhunya belum batal, karena ia yakin telah berwudhu, namun batal atau tidaknya
ia ragu.
·
Apabila seseorang yakin bahwa ia berhadats (kecil/besar), beberapa
saat kemudian ia ragu apaka ia telah bersuci atau belum, dalam keadaan seperti
itu maka sejatinya ia belum bersuci.
·
Apabila seseorang berjalan melewati suatu perumahan, kemudian
jatuhlah air dari lantai dua salah satu rumah dan membasahi bajunya, ia tidak
tahu apakah air tersebut najis atau bukan, maka secara asal air tersebut suci,
kecuali ia mendapati tanda-tanda yang jelas, misalnya dari baunya. (al-Qawaid
walUshul al-Jamia’ah, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, 90)
·
Apabila seseorang ragu dalam shalatnya, ia telah shalat 4 rakaat
atau 3 rakaat, maka hendaknya ia mimilih bahwasannya ia telah shalat 3 rakaat
karena itulah yang tidak diragukan,
kemudian melanjutkan ke rakaat yang ke-4 dan sujud sahwi.
·
Apabila seseorang hendak membeli barang dagangan berupa daging
sembelihan (ayam, kambing, sapi dan sebagainya) dari saudaranya sesama muslim,
maka hendaknya ia tidak ragu apakah daging tersebut adalah daging dari hewan
yang disembelih secara syar’i atau bukan, karena saudaranya adalah seorang
muslim, dan secara asal seorang muslim adalah mentaati perintah Allah, maka ia
akan menyembelih hewan sesuai dengan syar’i.
·
Apabila seorang suami ragu, apakah ia telah mentalak istrinya
atau tidak, maka sejatinya ia tidak atau belum mentalak istrinya. Karena menikahnya ia dengan istrinya adalah sesuatu yang
yakin. (al-Mantsur FilQawaid, az-Zarkasyi, 3/136).
2. Jangan Termakan Was-was Setan
Setan akan terus berusaha menggelincirkan anak keturunan Adam ‘alaihissalam
dari jalan kebenaran, hingga hari kiamat kelak, karena demikianlah janji iblis la’natullah
‘alaih. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman mengisahkan perkataan
iblis yang artinya, "Karena Engkau telah
menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari
jalan Engkau yang lurus.” (QS. al-A’raf: 16)
Imam Mujahid rahimahullah seorang ulama tafsir dari generasi
setelah sahabat (tabi’in) mengatakan almustaqiim berarti alhaq yaitu “kebenaran”.
Salah satu usaha setan dari janjinya tersebut adalah ia menebarkan
was-was kepada hamba-hamba yang beriman dalam beribadah kepada Allah Ta’ala,
sehingga muncullah keraguan-keraguan
dalam hatinya. Maka hendaknya kita
berlindung kepada Allah Ta’ala dari was-was setan dalam setiap keadaan.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
1. Katakanlah, "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara
dan menguasai) manusia.
2. Raja manusia.
3. Sembahan manusia.
4. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,
5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6. dari (golongan) jin dan manusia.
3. Islam Dibangun di atas Dasar yang Jelas
Pelajaran berharga juga dari hadits di atas adalah bahwasannya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada kita, bahwa
Islam adalah agama yang dibangun di atas dasar yang jelas, yaitu di atas al-Qur’an dan hadits serta pemahaman yang lurus, yaitu pemahaman para
sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga dengan demikian tidak ada
sikap yang bijak bagi setiap muslim
melainkan ia harus senantiasa berpegang teguh dengan agama yang mulia ini,
serta tidak beribadah kepada Allah Ta’ala melainkan dengan dasar yang
jelas dari al-Qur’an dan hadits, karena sesungguhnya segala sesuatu yang tidak
berasal dari al-Qur’an dan hadits, serta bertentangan dengan keduanya adalah sesuatu
yang meragukan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Katakanlah (wahai Muhammad), "Inilah jalan (agama) ku, aku
dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah
(dasar) yang nyata (jelas), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang
yang musyrik." (QS.Yusuf,108)
4. Tidak Mengantuk dalam Shalat
Sudah selayaknya bagi setiap muslim untuk mempersiapkan dirinya
dengan baik sebelum melaksanakan shalat. Di antaranya adalah mengatur waktu
tidurnya dengan baik, sehingga ketika melaksanakan shalat ia tidak mengantuk,
karena bisa jadi seseorang yang shalat berjamaah dan ia sedang mengantuk berat
mendengar suara
dari arah saudaranya, kemudian ia membatalkan shalatnya karena mengira
shalatnya telah batal. Tentu saja ini tidak dibenarkan.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjadikan kita semua
termasuk dari hamba-hamba-Nya yang senantiasa menjauhkan dirinya dari segala keraguan dan
senantiasa menetapi sesuatu yang meyakinkan, hingga Allah Ta’ala memperkenankan
kita memasuki surge-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin. (Irsan al-Atsary) editor (kamal albaity)